Kamis, 08 Oktober 2009

MARI BELAJAR TIDAK GOLPUT

Arizka Warganegara
Dosen FISIP Universitas Lampung
E-mail : arizka@unila.ac.id
Hp: 081279290888

The Tyranny of Prince in an Oligarchy is not so dangerous to the public welfare as the apathy of a citizen in a democracy, adalah sebuah kalimat lawas dari seorang Baron De Montesqiue pada abad ke-17. Dari awal nampaknya Montesqiue sudah menyadari bahwa demokrasi akan menjadi sistem yang tidak akan berimplikasi baik jika warga negara bersikap apatis terhadap segala bentuk formalisme demokrasi yang ada teramasuk juga Pemilihan Umum.

Tidak di Provinsi Lampung dalam waktu dekat akan segera datang Pilkada si Sepuluh Kabupaten/Kota, ditengah wacana keras mengenai penundaan pilkada di beberapa daerah otonomi baru (DOB) oleh berbagai pihak. Tentunya semua elemen yang akan terlibat Pilkada tahun 2010 nantinya akan mencoba mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya.

Pada bagain lain Partai-Partai Politik dalam kurun waktu 6 (enam) bulan kedepan mencoba dengan berbagai strategi memenangkan hati publik, ada yang tetap konsisten berjuang dengan mempertahankan fatsoen (etika-red) politik akan tetapi banyak juga partai politik yang tidak mengindahkan lagi fatsoen politik. Ditengarai ‘Gizi Politik’ atau Politik Uang semakin hari semakin beredar dan berdendang di ranah publik.

Sekedar mengingatkan istilah Gizi Politik ini diperkenalkan oleh almarhum Cak Nur ketika beliau mencalonkan diri sebagai Capres Golkar tahun 2004 lewat mekanisme konvensi. Pada saat itu sebenarnya banyak DPD I dan DPD II Golkar yang bersimpati dengan visi beliau mengatasi persoalan bangsa dan didaulat untuk maju sebagai Capres Golkar.

Akan tetapi visi saja tidak cukup perlu bumbu Gizi Politik, hal inilah yang membuat Cak Nur sangat menolak kala itu, Cak Nur sangat meyakini bahwa proses harus sejalan dengan tujuan, bahwa demokrasi mesti ditempuh dengan tetap mengedepankan fatsoen politik, maka walaupun akhirnya Cak Nur tidak menjadi Capres Golkar akan tetapi sampai akhir hayatnya beliau tetap konsisten dengan pandangan-pandangan negarawannya.

Kisah yang Menginspirasi

Adalah Wendy Tjia, seorang WNI keturunan (Tionghoa) asal Madiun yang telah banyak memberikan kesan kebangsaan terhadap diri saya. Kesan bagaimana pentingnya menentukan sikap politik dalam setiap Pemilihan Umum. Bagi saya, Wendy Tjia lebih dari sekedar teman, Wendy Tjia telah banyak mengajarkan kepada saya bagaimana memaknai kebangsaan secara utuh.

Kebetulan saya dan Wendy Tjia menyewa kamar kost ditempat yang sama, bahkan kami satu kamar tidur ketika sama-sama sekolah tahun 2003-2004. Hal yang membuat saya juga tersentuh adalah, ketika pagi-pagi buta, terdengar dari kamar mandi sibuknya gemericik air, saya-pun terbangun, tidak biasanya teman-teman satu kost-an pagi-pagi buta sudah mandi.

Dan ketika gemericik air berhenti saya melihat sosok Wendy Tjia keluar dari kamar mandi dengan ceria bernyanyi “mari-mari bangun kawan-kawan, kita kejar kereta menuju KBRI pergi mencoblos” sontak jiwa saya kembali terpana dibuatnya, begitu besar semangat nasionalisme seorang Wendy Tjia untuk mengikuti Pemilu, disaat teman-teman “asli” Indonesia masih terlelap tidur seorang Wendy Tjia telah bersiap-siap berangkat mencoblos. Wendy Tjia telah mengajarkan kepada kita bagaimana cara menghargai dan menyalurkan suara kita dalam sebuah sistem politik, satu suara yang mesti dihargai dan satu suara yang sangat bermakna untuk kehidupan politik bangsa lima tahun kedepan.

Sepanjang perjalanan diatas komuter saya melamun, membayangkan dan menyimpulkan, ternyata rasa nasionalisme itu tidak selamanya “menempel” pada orang asli (indigenous people), setelah melalui proses pemaknaan kebangsaan maka terkadang rasa nasionalisme itu muncul dengan sendirinya terlepas apakah orang tersebut indigenous atau tidak, dan selama dua tahun saya mengenal sosok Wendy Tjia, dua kali saya melihat sosok Wendy Tjia menghadiri upacara bendera 17 agustus di KBRI yang sebenarnya menjadi menu “tidak wajib” mahasiswa Indonesia untuk menghadiri acara tersebut.

Sekarang Wendy Tjia begitulah saya memangilnya, telah bekerja sebagai Applications Consultant di Singapura, berbekal ijazah Doktor teknik mesin saya rasa menjadi hal yang tidak sulit untuk dirinya mendapatkan Dolar Singapura dengan mudah, walaupun terkadang Wendy Tjia selalu curhat, “Gaji besar disini, tapi kita ibarat romusa bekerja pagi sampai malam, Saya rindu bekerja dan mengabdi di Indonesia” celotehnya kepada saya via sms.

Ada keinginan besar dari seorang Wendy Tjia untuk pulang dan bekerja di Indonesia, dahulu Wendy Tjia pernah bercerita kepada saya mengenai keinginan besarnya menjadi dosen di Indonesia dan menyumbangkan keahliannya dalam bidang CFD (Computational Fluid Dynamics) kepada negara dan bangsanya, tapi mungkin kesempatan itu belum ada.

Bagi kita yang merasa sebagai WNI “asli” mungkin cerita sederhana dari sosok Wendy Tjia bisa kita jadikan sebagai bahan renungan. Sebuah renungan kebangsaan mengenai pentingnya menumbuh-kembangkan kesadaran kebangsaan jauh diatas lintasan prasangka stereotipe kesukuan yang naif dan saling merugikan tersebut. Dan bukankah mengisi kemerdekaan dan demokrasi bangsa ini didapat dengan kolaborasi perjuangan berbagai suku di Indonesia termasuk juga saudara-saudara kita suku Tionghoa. Wawlahua’lam Bishawab.

Tidak ada komentar: